Oleh: Andri Maijar – ISI Padangpanjang

Ramainya perbincangan terkait peringatan G30S PKI yang ditandai dengan mewajibkan siswa-siswi SD,SMP dan SLTA untuk menonton bersama film G30S PKI arahan Arifin C Noer di sebuah stasiun televisi swasta di Sumatera Barat, menjadi isu yang menarik diperbincangkan. Baik itu dari kalangan sineas independen, pengamat film, budayawan, sejarawan dan lain sebagainya.

Nonton Bersama  film G30S PKI yang di inisiasi oleh Menkumham Wiranto ini tentu saja diharapakan menjadi salah satu pendongkrak kecintaan masyarakat khususnya bagi generasi muda yang belum begitu tercampur dengan arus informasi yang padat dan bisa merusak ideologi generasi penerus bangsa

Capain dari kegiatan ini tentu saja untuk membangkitkan dan meningkatkan jiwa bela Negara serta penanaman ideologi Pancasila sekaligus mengingat sejarah kelam Indonesia. Dalam beberapa buku sejarah yang didapat di berbagai gerai buku tentang peristiwa G30S PKI, ini merupakan peristiwa para masuknya ideologi komunis yang tidak sesuai dengan ideologi Indonesia yakni Ideologi Pancasila serta adanya pembantaian bagi para jendral tanah air yang ditandai dengan tragedy Lubang Buaya. Dalam peristiwa tersebut, beberapa orang pahlawan turut gugur dalam menjaga ideologi pancasila tersebut..

Film sebagai sebuah karya seni, tentu saja tidak akan pernah terlepas dari subjetifitas sutradara dalam menciptakan film tersebut, baik itu subjektifitas dalam aspek naratif (cerita) dan aspek sinematik (gaya). Dua unsur inilah yang akan saling berintraksi dan berkesinambungan satu sama lainya. bisa kita katakana kalau unsur naratif adalah bahan (materi) yang akan diolah, dan unsur sinematik adalah cara (gaya) untuk mengolahnya (silahkan baca: Himawan Prastiswa, 2008)

Sebagai alat Audio Visual, Film tentu saja sangat efektif dalam penyampaian informasi dan juga menjadi alat perubahan arah pandang. Aspek Naratif sebuah cerita yang didukung dengan aspek sinematik seperti teknik pengambilan gambar, dan berbagai efek dalam pemotongan gambar dalam pembutan film sangat mudah ditangkap oleh penonton sebagai sebuah realitas yang baru.

Perlu dipahami juga, penciptaan suatu karya seni seperti film, sudah melalui riset yang panjang, tetapi ke objektif-an sebuah karya dalam memandang sejarah dalam hal ini film G30S PKI tentu saja belum dapat dirasakan dengan baik. Dalam struktur cerita, Film ini lebih mendominasi terhadap pergerakan-pergerakan ABRI dalam pemberantasan oknum PKI tersebut. Dilain hal, PKI sangat terlihat kejam dan sangar dari film tersebut.

Film yang membahas tentang peristiwa partai komunis ini tentu saja tidak hanya pada film tersebut, berbagai sudut pandang juga hadir pada beberapa film seperti Sang Penari (2011), Senyap (2014), dan masih banyak film lainya yang menyisipkan adegan pergerakan komunis di Indonesia

Dalam Film Sang Penari, sang sutradara mengambil sudut pandang nasib sorang penari ronggeng yang tanpa dia sadari telah masuk kedalam pergerakan komunis. Iming-iming kebersamaan dan kesetaraaan membuatnya masuk kedalam perangkap komunis yang sebenarnya ia tidak paham akan komunis tersebut dan di sekap oleh puluhan perwira ABRI.

Dalam film tersebut, tentu saja Ifa Ifansyah sebagai sutradara, Ia mengkritisi fenomena ketidakadilan pemerintahan masa itu yang sewena-wena dan tampa bukti yang jelas membawa masyarakat desa yang tidak tau apa-apa tentang pergerakan komunis  dan harus ditangkap serta dihukum tanpa satupun alasan untuk melakukan pembelaan.

Lain hal dengan film Senyap (2014) karya Joshua Oppenheimer, Sutradara US ini malah melihat gerakan Pemerintah pada saat itu bukti dari kesewenang-wenangan pemerintah terhadap masyarakat yang belum tentu terlibat pada aksi kejahatan (komunis). Dalam film yang berdurasi lebih kurang satu jam tersebut, menceritakan tentang beberapa orang yang selamat dari kekejaman ABRI yang menindas masyarakat pendesaan yang di anggap tergabung dalam pergerakan Komunis di Sumatera Utara.

Melihat sejarah, tentu saja tidak bisa melihat satu penggalan peristiwa saja. Beberapa dari film tersebut, tentu saja memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Beda pencipta, beda interpertasi, faktor empirik tentu saja akan merealisasikan karya yang berbeda pula. Menjadikan sebuah peristiwa penting sebagai sebuah komponen karya seni, tentu saja memiliki maksud dan tujuan bagi pemangku kepentingan. Baik itu kepentingan personal, dan kepentingan interpersonal.

1 Comment

  1. Wow, wonderful weblog format! How lengthy have you ever been blogging for?
    you make blogging look easy. The overall look of your website is excellent,
    as neatly as the content material! You can see similar here e-commerce

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *